Ketika Orang Tua Mulai Menua

Ketika Orang Tua Mulai Menua
Tidak ada yang benar-benar memberi tahu kita kapan orang tua mulai menua.
Suatu hari...
Kita hanya menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah.
Dulu...
Kita yang berlari kecil mengejar langkah ayah.
Hari ini...
Kitalah yang tanpa sadar memperlambat langkah agar ayah tidak tertinggal.
Dulu...
Ibu mengingat hampir segala hal.
Jadwal sekolah.
Bekal makan.
Obat ketika kita sakit.
Hari ini...
Ia sesekali berhenti sejenak hanya untuk mengingat di mana kacamatanya diletakkan.
Perubahannya tidak pernah datang sekaligus.
Sedikit demi sedikit.
Pelan sekali.
Hingga sering kali kita tidak menyadarinya.
Lalu hidup membawa kita semakin jauh.
Pekerjaan.
Kesibukan.
Tanggung jawab.
Hari-hari berlalu begitu cepat.
Telepon yang seharusnya dilakukan hari ini berpindah ke esok hari.
Rencana pulang bergeser ke bulan depan.
Percakapan menjadi semakin singkat.
Kita selalu merasa...
Masih ada waktu.
Padahal...
Waktu tidak pernah mengatakan bahwa ia akan menunggu.
Ada banyak hal yang bisa kita kejar kembali.
Pekerjaan.
Penghasilan.
Kesempatan.
Tetapi ada satu hal yang diam-diam terus berjalan ke satu arah.
Usia orang tua kita.
Mereka tidak pernah meminta hadiah yang mahal.
Tidak pernah menghitung seberapa besar pemberian kita.
Sering kali...
Mereka hanya ingin rumah kembali ramai, meski hanya untuk beberapa jam.
Mendengar suara anak-anaknya.
Makan bersama tanpa terburu-buru.
Mendengarkan cerita sederhana tentang kehidupan kita.
Hal-hal yang mungkin terasa biasa bagi kita...
Justru menjadi bagian yang paling berharga bagi mereka.
Mungkin suatu hari nanti...
Rumah itu masih berdiri.
Foto-foto keluarga masih tergantung di dinding.
Kursi di ruang tamu masih berada di tempatnya.
Cangkir yang biasa digunakan ibu masih tersimpan rapi di lemari.
Segalanya terlihat hampir sama.
Tetapi suara yang dulu menyambut kita ketika membuka pintu...
Mungkin telah berubah menjadi kenangan.
Dan saat hari itu tiba...
Kita akan menyadari...
Yang paling kita rindukan bukanlah rumah masa kecil.
Melainkan orang-orang yang pernah membuat rumah itu terasa hidup.
Barangkali...
Itulah sebabnya...
Kebersamaan tidak pernah terasa berharga ketika sedang dijalani.
Kita baru benar-benar memahami nilainya...
Setelah waktu tidak lagi memberi kesempatan untuk mengulanginya.

Buku Kita

Sebelum Terlambat

Sebelum Terlambat

Beli Buku
Ketika Cinta Tidak Lagi Semuda Dulu

Ketika Cinta Tidak Lagi Semuda Dulu

Beli Buku

Terima kasih telah membaca.

Lihat Semua Buku